Langsung ke konten utama

“SLOKI DUA DERITA”


Dari sistem sampai batu di pojokan hati
17.000 rumput kering melambai sapa api
Lalu sepasang mata mendelik jemput badai :
Menumpahkan tangisnya
Berbisik dengan amarahnya
Sayang , suaranya raib diterkam birokrasi

Masih duduk di antar jembatan emas
Dan bendera tetap di bawah tumpukan debu
Bahwa 73, baunya hujan mencumbu aspal
Urai segala kenang
Usai semua kursi usang
Lerai sebulat permata kekang

Perkenalan pada dirimu
Pintu masuk peperanganmu

Kepergok macan lapar
Hidung risau menepuk nyamuk
Dilahap ke perut paus
Terkekeh oleh buku dan lilin
Menyendiri mengukir family
Kayu-kayu berkawan karib kebohongan

Bermain bersama jelata
Paria bermabuk ria mahkota tahta
Berdialog di formal akademisi
Ksatria berebut kalut kuasa dan ambisi
Bermalam di punggung senyap
Manusia bermesra kasyaf

Menuju tiada alas
Menemumu lepaslah batas

21-10-‘17
: Mangajo Mande Caffee
Rohimin
rohiminmta@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa Terhambat Beraktifitas Karena KTM

oleh: tumpul_peot Seiring majunya perkembangan zaman, menjadikan manusia memiliki pemikiran yang modrn. Perkumpulan antar individu akan bermakna menjadi masyarakat, pada dasarnya masyarakat akan tertata bila berada pada suatu instansi/wadah guna membentuk sosial  yang terintegrasi secara baik, terorganisir pemerintah setempat dengan suatu regulasi yang bertujuan memajukan masyarakat tersebut, wadah itu kini disebut Negara. Konsepasi Negara sudah dikenal sejak zaman yunani kuno, pada zaman itu sudah ada yang menyebut polis atau Negara. Aristoteles dalam bukunya politica, polis berfungsi sebagai tempat tinggal bersama warga Negara dan pemerintahan, sebagai benteng untuk menjaga keamanan dari serangan musuh. Dengan demikian dapat diartikan bahwa masyarakat yang terwadahi dalam suatu Negara adalah masyarakat yang di organisir oleh tatanan pemerintah Negara, serang filosof yang lahir di prancis pada abad 16 yaitu Montesquieu, yang dikenal sebagai seorang penganjur system pemerintaha...

SEDDOBRAK PIJAK

Oleh : Rohimin Sebab merdeka tubuh itu berpindah satu ke lain penjajah Beralih patuh pada pojok tak jauh beda tirani pasrah Bukankah merdeka pikiran itu absolut nan absah? Dan tiada bukan selain pengetahuanlah Yang mampu memerdekakan Membebaskan dogma doktrin kaprah                                         Teruntuk   mahasiswa yang berjiwa pembela Degan penuh gasagasan dan dahaga, berfikir kritis demi sang raja! Membela dengan setulus jiwa, tak pernah takut akan bahaya melanda Dalam benak tak terlintas akan rupiah Ketulusan selalu jadi utusan Qalbu yang suci terdidik dalam diri Demi pembaharuan yang terbayang dalam nurani Berteriak lantang dengan segerombolan pembela dibawah naungan organisasi Kita merindu Mahbub Djunaidi Sang pembela berfikir radik...

Etika Mayoritas Dalam bingkai Pluralisme

Oleh: Rohimin Indonesia telah memainkan peran yang sangat penting dalam mempromosikan pluralisme dan respek pada keberagaman religius.   “Barack Obama”